Pages

Sabtu, 06 Juni 2015

Nothing Lasts Forever

This morning is one of the best weekends I ever had. Simple, not going anywhere, had nothing to catch for deadlines, still on my bed, got a glass of warm chocolate milk made by my mother and on top of all, pouring rain. My happiness. This happiness leads me to open up my laptop and write. 

When I looked out the window, I realized something about time. Time, the most precious thing a human in this world has, sometimes distracting. When you are enjoying a moment so bad, you feel like you don’t wanna move. You just want to stand up there, freeze the moment and enjoying every second of the time. Yeah, every second of the time, which means that the moment is not standing still. The moment keeps going, so does the time. 

I was thinking, why can’t we stop the time for the moment we enjoy the most? So there is no ticks in every second. I just want the watch stops everytime I got my most favorite moments. 

Maybe this can be the answer:               Nothing lasts forever.

We still live in this world, which is just for a while, like a bus stop. It is not a destination, it is a test. It is just passing by. Our real destinations are either heaven, or hellfire. I always remember one quote that once said by my trainee, “Living in this world is like water that flows in our throats, just a while, very fast.” Eternity only belongs to Allah, and eternity for us, is in the here after.

Minggu, 01 Maret 2015

KUCHING TRIP: With Ceu and Yuni

Pontianak, February 18th 2015



This is the day I’ve been waiting for. Tonight, Yuni, Ceu and I are planning to go to Kuching. We have booked the bus for Pontianak- Kuching and Kuching- Pontianak costs Rp 350.000,00. The bus is named Sri Merah. Quite funny for a bus since the color of the bus is not red. I just wonder why did the owner named it as Sri Merah. We also booked a 3 persons- room for 3 nights since two weeks ago in City Inn, a hotel near Waterfront. 

Actually this is the trip we have planned when we’re still in university. Right now each of us has the “S.Pd” after each of our names and a trip to Kuching is the top of our “celebrating struggle”.  No doubt this will be our first trip together abroad and we’re so excited about that. Honestly this is not just the trip for me, Yuni and Ceu, it’s supposed to be Cleptoner’s trip. Yeah, cleptoners consists of Chika, Zee, Kak Pu, Melti, Okta, Linda, Nemi, Yuni, Ce and me. 

Yet, the rest of us have their own barriers. If we put it off again, we’re afraid we won’t make it.
So, after I took a day off from office and asked for permission from my parents, we decided to go without them. Sad thing actually.

But we have to do it before we get more “HAWE”. Cleptoners is famous for its “HAWE-Ness”. So for the first time in forever we wanted to prove that Cleptoners is not HAWE at all. (to be continued~)






Sabtu, 11 Januari 2014

Our Book : Story of Jogja #6

Yogyakarta, 31 Desember 2013

Agenda hari ini, kita pergi ke museum 3 dimensi yang letaknya di XT Square. Di musium ini terdapat gambar- gambar 3 dimensi yang asik banget buat dijadiin tempat foto- foto mulai dari objek alam hingga bintang terkenal dunia seperti Lionel Messi, Rowan Atkinson and Psy. Rame banget musiumnya hari itu. 



Sepulang dari situ kami ke Galleria Mall makan sushi Rp 5.000,00 di Sushi Story dan makan es krim. Habis dari mall, ketika kami berniat pulang, tanpa disangka- sangka motor yang dikendarai Eka mogok. Rupanya businya basah kena hujan. Kami uda hampir mau bawa ke bengkel, tapi satu hal yang bikin kami terharu, mas- mas tukang parkir nya baiiik banget. Dia bantuinnya tulus banget, sampe orang bengkel ditelepon buat dateng. Sebelum tukang bengkelnya dateng, ada lagi dua orang cowok yang bantuin nyalain motornya. Setelah mencoba berkali- kali, akhirnya bisa. Waaah, kami terharu. Walaupun mereka orang asing, tapi mereka ikhlas bantuin kami. Thanks Jogja people! Your kindness will never be forgotten. 

Setelah itu kami ke UNY, nganterin Riza nganter tugas sekalian ketemuan sama Bang Eja. Gak nyangka juga bisa ketemuan sm Bang Eja di Jogja, padahal berangkatnya gak janjian.


-New Year's Eve-

Kami menghabiskan malam tahun baru di Sekatenan. Di pasar malam tersebut, Eka berhasil membuat Tia lemah jantung. Dia ngajak naik kora- kora. That was my first time! Itu sumpah lemes banget kaki dan seluruh badan. Kami teriak- teriak minta berhenti pas wahana itu dimainkan. Gak kebayang ekspresi muka kami dari bawah. Lucunya, cowok- cowok yang duduk di belakang kami teriakannya lebih histeris lagi dari kami berdua. Menurut pengakuan Riza, Dita dan Bang Eja yang ngeliat dari bawah sih, ekspresi kami ancur. Setelah itu kami masuk ke rumah hantu. Yah, nyeremin sh, tapi sensasinya gak se-GILA waktu naik kora- kora. 

Finally kami memutuskan buat keluar dari pasar malam tersebut dan gabung dengan warga Jogja lain duduk di jalanan nungguin jam 00.00. Kami duduk sambil main game game konyol kayak Domikado dan “Sebutkan Nama- Nama”. Yang kalah harus niup terompet sekeras- kerasnya 3 kali dan yang ke- 4 diusahakan agak berlagu. Gak peduli deh apa kata orang- orang yang ngeliatin. Toh gak ada yang kenal kita juga disitu. Hehe. 

Jam 00.00 udah kami dokumentasikan and it was a BLAST. FIREWORKS EVERYWHERE. Kami berada tepat di bawah letusan kembang api. Akhirnya, di titik 0 km Jogja, jam 00.00 WIB, 1 Januari 2014 bisa Tia, Eka, Riza Dita lewati sama- sama. ^^ Doa kami moga moga 2 tahun lagi bisa kita lewati juga sama- sama di dekat patung Merlion. Aaamiin ya Allah. 




Our Book : Story of Jogja #5

Yogyakarta, 30 Desember 2013 

Borobudur... we are coming! Kami ke Borobudur dan ini hari pertama kami merasakan hujan di Jogja. It was beautiful. Di sini kami juga hunting bule buat diajak foto bareng. Rame banget bule disini dan satu hal, gak sulit buat nyari bule di Jogja.Kami belanja oleh- oleh disini, selain murah, juga lengkap. Seharian kami di Borobudur. Nyampe rumah sebelum maghrib. Pulangnya tepar.



Our Book : Story of Jogja #4

Yogyakarta, 29 Desember 2013

Pagi Minggu kami habiskan di Sunmor (Sunday Morning). Ini merupakan kawasan dimana mahasiswa- mahasiswi UGM dan masyarakat sekitar menghabiskan Minggu pagi mereka. Mirip kayak di GOR Pontianak, di Sunmor ini banyak banget jualan- jualan dan jenis sarapan yang bervariasi.  Siang harinya kami makan di “Kepala Ikan Mas Agus”. Tia makan kerang, yang lain pada makan kepala ikan yang gueede banget. Enak banget Alhamdulillah. Sore harinya kami pergi ke pantai Parangtritis yang letaknya di Bantul, juga tidak terlalu jauh dari Jogja. Disana Tia dilukis dan itu hasilnya bagus. 


Our Book : Story of Jogja #3

Yogyakarta, 28 Desember 2013

Hari ke 2 di Jogja, Tia, Riza, Eka dan Dita sepakat buat pergi ke Dieng, dataran tertinggi di pulau Jawa. Kami tidak hanya berempat, melainkan ditemani oleh 4 abang- abang kocak yakni; Bang Dika, Bang Aris, Bang Fandri, dan Bang Amar. Mereka adalah senior- senior Riza di kampus yang orangnya asik- asik banget. Dari mereka berempat ternyata gak ada satupun yang orang Jogja. Bang Amar itu dari Kalimantan Tengah dan sisanya dari Kalbar semua. Bang Amar yang mendapat kewajiban menyupiri kami (yaaah dilihat dari skill nya mengendarai mobil dan juga ketangkasannya dalam mengenal jalan). Hari ini luar biasa. Di Dieng ini kami mengunjungi Telaga warna dan kawah putih. Sebuah pengalaman yang tidak dapat kami lupakan.  


Our Book : Story of Jogja #2

Yogyakarta, 29 Desember 2013

Hari pertama di Jogja kami gunakan untuk memberikan birthday surprise buat Kak Dita yang sebenarnya berulang tahun sehari sebelumnya, 26 Desember. Kami uda nyiapin surprise nya beberapa minggu sebelum berangkat. Kami uda menentukan untuk membelikan Nenek Dita selimut. Sesampai di kosan, Tia dan Dita tepar. Kami mabuk. Tia mabuk karena naik taksi dan Dita mabuk karena pertama kali naik pesawat. Katrok memang kami. 

Kue ultah Dita udah Riza siapin di dalam kulkas. Sewaktu Kami keluarkan kuenya Dita kontan terharu dan seneng banget. Alhamdulillah. Seneng banget kalo liat sahabat kita seneng karena kita. Apalagi waktu itu Dita gak nyangka. Dita kirain kita lupa sama ultahnya. Hahaha. 

Siang harinya kami gunakan untuk beristirahat. Eka mijitin punggung Tia pake minyak kayu putih biar Tia agak enakan. So sweet banget Eka. Tapi tIa tahu maksud Eka. Dia akan melakukan apa pun supaya kami berempat bisa langsung keluar dari kosan hari itu dan menikmati Jogja. Kalo Tia tepar, nanti gak asik dong. Hahaha. Makanya alhasil Tia pun gak mau membiarkan mereka bertiga jalan tanpa Tia. Sehabis makan siang Tia minum obat, tidur sejenak sampe keringatan dan Alhamdulillah sorenya udah agak enakan.  Kesampaianlah sore harinya kami menyusuri jalan Malioboro (yang padat merayap) dengan menggunakan motor Riza dan motor Kak Ipit dan singgah di titik 0 km Jogja. 

Ada kisah menarik disini. Riza itu uda beberapa bulan tinggal di Jogja dan ternyata dia udah berkomitmen gak mau pergi ke titik 0 km Jogja tanpa sahabat- sahabatnya. Jadi hari itu merupakan hari pertama Riza nongkrong di sana dan Alhamdulillah apa yang diinginkannya tercapai. Disana kami berempat menghabiskan sore bersama sambil menikmati suasana sore Jogja. Disana kami melihat orkestra musik yang keren banget, foto- foto sama manusia berwujud patung, ngeliat orang bersosok pocong lengkap beserta kuburannya, dan singgah ke museum Vredeburg (walaupun nda masuk karena uda tutup, kesorean).