Pages

Sabtu, 11 Januari 2014

Our Book : Story of Jogja #4

Yogyakarta, 29 Desember 2013

Pagi Minggu kami habiskan di Sunmor (Sunday Morning). Ini merupakan kawasan dimana mahasiswa- mahasiswi UGM dan masyarakat sekitar menghabiskan Minggu pagi mereka. Mirip kayak di GOR Pontianak, di Sunmor ini banyak banget jualan- jualan dan jenis sarapan yang bervariasi.  Siang harinya kami makan di “Kepala Ikan Mas Agus”. Tia makan kerang, yang lain pada makan kepala ikan yang gueede banget. Enak banget Alhamdulillah. Sore harinya kami pergi ke pantai Parangtritis yang letaknya di Bantul, juga tidak terlalu jauh dari Jogja. Disana Tia dilukis dan itu hasilnya bagus. 


Our Book : Story of Jogja #3

Yogyakarta, 28 Desember 2013

Hari ke 2 di Jogja, Tia, Riza, Eka dan Dita sepakat buat pergi ke Dieng, dataran tertinggi di pulau Jawa. Kami tidak hanya berempat, melainkan ditemani oleh 4 abang- abang kocak yakni; Bang Dika, Bang Aris, Bang Fandri, dan Bang Amar. Mereka adalah senior- senior Riza di kampus yang orangnya asik- asik banget. Dari mereka berempat ternyata gak ada satupun yang orang Jogja. Bang Amar itu dari Kalimantan Tengah dan sisanya dari Kalbar semua. Bang Amar yang mendapat kewajiban menyupiri kami (yaaah dilihat dari skill nya mengendarai mobil dan juga ketangkasannya dalam mengenal jalan). Hari ini luar biasa. Di Dieng ini kami mengunjungi Telaga warna dan kawah putih. Sebuah pengalaman yang tidak dapat kami lupakan.  


Our Book : Story of Jogja #2

Yogyakarta, 29 Desember 2013

Hari pertama di Jogja kami gunakan untuk memberikan birthday surprise buat Kak Dita yang sebenarnya berulang tahun sehari sebelumnya, 26 Desember. Kami uda nyiapin surprise nya beberapa minggu sebelum berangkat. Kami uda menentukan untuk membelikan Nenek Dita selimut. Sesampai di kosan, Tia dan Dita tepar. Kami mabuk. Tia mabuk karena naik taksi dan Dita mabuk karena pertama kali naik pesawat. Katrok memang kami. 

Kue ultah Dita udah Riza siapin di dalam kulkas. Sewaktu Kami keluarkan kuenya Dita kontan terharu dan seneng banget. Alhamdulillah. Seneng banget kalo liat sahabat kita seneng karena kita. Apalagi waktu itu Dita gak nyangka. Dita kirain kita lupa sama ultahnya. Hahaha. 

Siang harinya kami gunakan untuk beristirahat. Eka mijitin punggung Tia pake minyak kayu putih biar Tia agak enakan. So sweet banget Eka. Tapi tIa tahu maksud Eka. Dia akan melakukan apa pun supaya kami berempat bisa langsung keluar dari kosan hari itu dan menikmati Jogja. Kalo Tia tepar, nanti gak asik dong. Hahaha. Makanya alhasil Tia pun gak mau membiarkan mereka bertiga jalan tanpa Tia. Sehabis makan siang Tia minum obat, tidur sejenak sampe keringatan dan Alhamdulillah sorenya udah agak enakan.  Kesampaianlah sore harinya kami menyusuri jalan Malioboro (yang padat merayap) dengan menggunakan motor Riza dan motor Kak Ipit dan singgah di titik 0 km Jogja. 

Ada kisah menarik disini. Riza itu uda beberapa bulan tinggal di Jogja dan ternyata dia udah berkomitmen gak mau pergi ke titik 0 km Jogja tanpa sahabat- sahabatnya. Jadi hari itu merupakan hari pertama Riza nongkrong di sana dan Alhamdulillah apa yang diinginkannya tercapai. Disana kami berempat menghabiskan sore bersama sambil menikmati suasana sore Jogja. Disana kami melihat orkestra musik yang keren banget, foto- foto sama manusia berwujud patung, ngeliat orang bersosok pocong lengkap beserta kuburannya, dan singgah ke museum Vredeburg (walaupun nda masuk karena uda tutup, kesorean). 

Our Book - Story of Jogja #1

19 Desember 2013, merupakan salah satu hari paling penting di hidup Tia. Itu adalah hari dimana perjuangan kuliah selama kurang lebih 5 tahun 3 bulan dipertaruhkan. Iyaa, proses menuju hari itu aja memakan waktu 1,5 tahun. Kebayang betapa bete nya berkutat dengan lembaran- lembaran berisikan kata- kata akademis yang indah itu. It just might be a drop in the vast sea of academic production. Sebuah SKRIPSI itu mungkin hanya ibarat setetes air di lautan akademis yang luas. Tapi satu tetes itulah yang harus Tia perjuangkan untuk bisa memenuhi salah satu impian dari Tia dan para sahabat tersayang; “Bisa liburan akhir tahun di Jogja dengan gelar S.Pd di tiap nama kami”.

Bisa dibilang Tia adalah orang yang paling telat dapetin gelar itu. Gimana ngga? Di saat mereka (Eka, Dita, Riza) dari semenjak KKN udah mulai memikirkan alur skripsinya masing- masing, Tia aja belum kepikiran sama sekali untuk buat judul. Mengingat lingkungan di sekitar Tia yang notabene anak- anak Bahasa Inggris, yang juga udah terkenal lulusnya lama~ yah mau gimana lagi. Hihihi (Alasan!). Intinya Tia emang males buat skripsi. Tia bukan tipe orang yang suka berteori. Sedangkan, skripsi itu terdiri atas 70% teori dan 30% bagaimana kita melebay. Maksudnya ialah melebay dalam menulis. Semuanya harus berdasarkan teori, semuanya harus punya dasar, semuanya harus berdasarkan pendapat experts. Kalo kita mandai- mandai (maksudnya mengada- ada) nulis, ntar ditanya sama dosen dengan rada sinis, “Are you an expert?” Lah, gimana kita mau jadi expert coba kalo pemikiran kita dibatasi dan apa- apa harus ngikutin pendapat orang lain. Itulah salah satu ribetnya nulis skripsi. Kita gak bisa bebas berekspresi. 

Alasan lain kenapa skripsi Tia lama selesai mungkin dikarenakan Tia juga bekerja di salah satu tempat les di Pontianak, mengajar Bahasa Inggris disana hampir setiap hari. Sebenarnya ini juga bukan alasan kalo Tia pandai membagi waktu. Tapi itu dia. I got problem in time management. Susah banget membagi waktu antara skripsi dengan pekerjaan. Di kampus itu, kalo kita mau konsultasi, nunggu dosennya harus nunggu rambut numbuh 1 meter dulu, sedangkan kita yang punya pekerjaan di luar itu kan gak bisa selalu stay ditempat. Baru beberapa jam nunggu dosen, eh udah harus siap- siap buat ngajar. Alhasil dua- duanya jadi keteteran. Dosen gak ketemu, ngajar pun gak maksimal karena berangkatnya selalu in a rush alias buru- buru. 

Oleh karena itu, pada awal September, Tia putuskan untuk resign dari side- job Tia. Berhenti untuk ngajar Bahasa Inggris di Communicative English Course dan fokus ngerjain skripsi. Ini juga merupakan salah satu nasehat dari Kaa. Beliau bilang, “Ngerjain skripsi itu harus fokus.” Ya udah, jadi setelah itu Tia bener- bener serius menggarap skripsi yang sempat terbengkalai. Walaupun agak sedih juga awalnya, meninggalkan pekerjaan yang udah Tia geluti selama kurang lebih 4 tahun, banyak sekali kenangan dan pelajaran yang bisa Tia ambil dari sana,  sedih harus meninggalkan Bu Jannah yang selalu sabar dan pengertian, Pak Ibnu yang ramah, Nenek yang super baik dan sering ngasi empek- empek gratis, dan  murid- muridnya yang lucu- lucu dan ngangenin. Bisa dibilang kami uda punya emotional bounding disana. Sedih tapi.... tetap harus dijalanin karena inilah hidup. Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada pilihan- pilihan. Dan jalan yang Tia pilih ini, harapannya dapat membawa Tia menuju perubahan yang lebih baik. Mudah- mudahan..

Sehari sebelum berangkat ke Jogja, kondisi badan Tia lumayan gak fit. Makannya gak teratur, istirahatnya kurang, dan mesti mengurus beberapa hal terkait kepergian Tia ke Jogja selama kurang lebih 2 minggu. Selama 2 minggu keberangkatan otomatis Tia harus mengurus cuti siaran, revisi skripsi yang belum kelar, daaan perizinan dari Mama Papa. Meskipun begitu, Tia yakin tanggal 27 Desember tetep bisa berangkat bareng Eka dan Dita untuk ketemu Riza di Jogja. Insya Allah. Kalo niat kita baik Insya Allah akan dimudahkan. Tiket keberangkatan juga udah dipesen sama temennya Eka, Wawan. Untungnya dapet temen yang kerja di travel itu, kita selalu dapet update tentang harga tiket murah. Iya beruntung Kaa punya temen kayak Wawan karena kita bisa dapet tiket langsung ke Jogja dengan harga yang cukup miring walaupun gak miring- miring banget. 

Malam sebelum berangkat Tia sempet nanya ke Riza mau dibawain apa dari Pontianak. Waktu itu Riza bilang terserah. Jadi Tia saranin, “Tia bawain bingke aja yah!”. Bingke merupakan salah satu kue khas Pontianak yang berwarna kuning kalo dimakan yummy banget. Teksturnya lembut dan apabila kita beli bingke nya di Bingke Fajar, maka akan ditemukan banyak varian bingke seperti bingke keju, bingke ubi, bingke susu, bingke kentang, dan lain- lain. Waktu itu Riza senang mau dibawain bingke dan cusss Tia sama Eka pergi malam itu hujan- hujan untuk nyariin Riza bingke keju. Dengan mantel Tia yang imut dan mantel ristoja Eka yang merah menyala (mirip pemadam kebakaran), berangkat lah kami berdua menerjang hujan badai untuk beliin Riza bingke.
Setelah dibeli, bingke- bingke Riza dibawa oleh Tia dan Tia simpan di dalam kulkas. Unfortunately, ternyata pas di bandara Tia lupa bawa kue bingke nya dan itu membuat usaha kami semalam jadi sia- sia .________.

Sabtu, 05 Oktober 2013

"Mistake"

"I grow up making mistakes. I grow up trying to fix it. I grow up learning from it. Mistake is my faithful friend."
- I do something. I make mistakes. I regret it. I get down. I realize. I learn.
- I do it again. I don’t make mistake. I do better. I learn.
- I do it again. I do much better. I enjoy it. I learn.
- I do it again. I do great. I get used to it. I master. I learn. =)
THAT’S CALLED A PROCESS.

Laskar Liansipi from SMPN 1 Mandor (KKN Part 2)

At the end of our activities, we decided to hold a fellowship night to present some entertainments which were performed mostly by the students. And one of the performances was English drama. I and Ery (our team leader which was also an English teacher) were responsible for this.
Seriously, when we got this idea, I still worried about the students. I was thinking, “they were still really beginners, even they had poor pronunciation, how could they memorize and even perform conversations in English?” Those thoughts echoed in my mind and some of my friends even brought me down. They said it was impossible! I was really frustated.
But luckily, we had Ery Ermawan there. He was the one who supported me and convinced me that we could do it together.
Then about three weeks before the fellowship night, I started to choose the students. I made a kind of selection and I got 7 students; Ari (as Ikal), Ichwan (as Lintang), Yano (as Mr. Harfan and mail man), Joko (as Harun), Iyan (as Meme), Fitri (as Ms Muslimah), and Essa (as prolog and Lintang’s sister).
We decided to perform the drama entitled “LASKAR LIANSIPI” that I performed previously with my friends entitled “F.R.I.E.N.D.S” which was adapted from Laskar Pelangi. Because of the limited number of the students who joined the selection, we decided to add the participants into twelve and they were; Heru (as Mahar), Mutia (as MC), Jenny and Yeni (as the students from SD Pelita Harapan), and the youngest was Nisa (Lintang’s youngest sister), our neighbor’s daughter who was still eight years old.
They were the eight- graders of Junior High School 1 in Mandor and they really have a GREAT SPIRIT to perform the English Drama.
At the end, two weeks of practice……………… their pronunciations were getting better and they could act like the real movie stars! :D
Saturday, March 31, the fellowship night was held and they could perform almost perfect! From scale 1- 10, I could say they got 9! Although with no microphones clip on, they still could manage their English and kept concentrating on their memorization.
image
They made my day, my month, my year! The time I spent with them was really precious and I would never forget that! Their spirit to learn and their efforts to make things better are impressive. I LOVE THEM. I love Laskar Liansipi.
From that experience I learned that we must be sure of ourselves and do not underestimate something. We never know what people have inside themselves. Everybody has their own strength and weakness. But it what makes them unique and special. Sometimes one doesn’t know what ability they have inside. And especially for teachers, it has been their duty to look over their students deeper than others to motivate them, convince them, and keep their spirits on fire so they can show up their hidden- abilities well.

Berguru di Tanah Liansipi, We Teach, and We Learn (KKN Part 1)

This is the story of my experience when I was having KKN (obligatory social action internship for advanced university students) in a countryside called Liansipi, Mandor Regency started February 17 - April 4.There we lived in a building named PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat).
In KKN, what we have to do is that we have to serve the society around the village based on their needs. And there, after we did some observations, we found that the people were no longer left behind.
They were already prosperous and had realized the importance of education. It could be said they lived in a developed district supported by the amount of their latex forest and gold. Yes, Mandor is famous for its gold. Many of the inhabitants work as miners. But still, the education facility was still low, especially the teachers.
That was why we were there. We decided to be the education facility for them, to transfer the spirit of the students in learning. We made a free course of all subjects for elementary students and a special English course.
At the first time, the English course was only focused on the elementary students because we found that English was not taught in elementary school (we wanted to introduce English to them before they went to junior high), but surprisingly the participants also came from junior high school students.
So, every Monday and Tuesday our camp was crowded by the children around the countryside. They came to learn and they were so excited. We were very happy to teach them. We had one hour for the all- subjects course, and one additional one hour for special English course. All- subjects course we did in our camp, and English course in SDN 33 Liansipi (another school bulding).
What we learned was that the students were really enjoyed to learn. They came REALLY on time. Can you imagine, the course started on 14.00 WIB, but they already came since 12.30 WIB. We really appreciated that, something we rarely found in Pontianak city. They really respect us. We miss that moment.
image